Senin, 14 Mei 2012

sekolah sosialisasi anak dan keluarga

A. Sekilas tentang Sosialisasi
Telah menjadi bagian dari studi sosiologi pendidikan bahwa
sosialisasi merupakan salah satu topik kajian yang dipelajari secara
serius. Mengingat arti sosialisasi itu sendiri merupakan proses
alamiah yang membimbing individu untuk mempelajari, memahami
dan mempraktikkan nilai-nilai, norma-norma, pengetahuan
serta keterampilan yang dimiliki oleh masyarakat, sosialisasi
memiliki urgensi yang begitu kuat terhadap keberlangsungan
pendidikan bagi individu sebagai anggota masyarakat.
Proses sosialisasilah yang membuat seseorang menjadi tahu
bagaimana seharusnya seseorang bertingkah laku di tengahtengah
masyarakat dan lingkungan budayanya. Proses sosialisasi
membawa seseorang dari keadaan belum tersosialisasi menjadi
masyarakat dan beradab. Melalui sosialisasi, seseorang secara
berangsur-angsur mengenal persyaratan-persyaratan dan tuntutan-
tuntutan hidup di lingkungan budayanya.
Oleh karena pentingnya pembahasan sosialisasi, maka secara
khusus para ahli memfokuskan perhatian studinya guna mengungkap
arti sosialisasi sesuai dengan titik tolak dan sudut pandang
yang berbeda-beda. Tokoh-tokoh seperti Kimbal Young, R.S.
Lazarus, Havigurst, Naugarten, Thomas Ford Hoult serta George
Herbert Mead seperti dirangkum Ahmadi (1991) mengemukakan
pengertian sosialisasi mencakup :
1. Proses sosialisasi adalah proses belajar. Yaitu suatu proses
akomodasi di mana individu menahan, mengubah impulsimpuls
dalam dirinya lalu diikuti oleh upaya pewarisan cara
hidup atau kebudayaan masyarakatnya,
2. Dalam proses sosialisasi itu individu mempelajari kebiasaan,
sikap, ide-ide, nilai-nilai dan tingkah laku dalam masyarakat
di mana ia hidup, dan
3. Semua sikap dan kecakapan yang dipelajari dalam proses
sosialisasi itu disusun dan dikembangkan secara sistematis
dalam pribadinya.
Dengan proses sosialisasi individu berkembang menjadi
suatu pribadi atau makhluk sosial. Pribadi atau makhluk sosial ini
merupakan kesatuan integral dari sifat-sifat individu yang berkembang
melalui proses sosialisasi, hal mana yang mempengaruhi
hubungannya dengan orang lain dalam masyaraat.
Dalam ilmu sosial, studi tentang sosialisasi telah sampai
pada penilaian beberapa ilmuwan sosial untuk mengungkap hakikat
keberadaan manusia. Sebuah jawaban yang dilontarkan kepada
mereka-mereka yang mempertanyakan asal-usul dan selukbeluknya.
Petanyaan tersebut telah menantang para ahli ilmu-ilmu
sosial dan filsafat selama bertahun-tahun. Kini terdapat suatu
pemahaman umum mengenai sifat dari keberadaan manusia
meskipun beberapa aliran mempunyai cara pendekatan yang
berbeda-beda. Di antara mereka ini lebih banyak mengupas
eksistensi manusia dalam konteks sosial kebudayaannya, dengan
mengemukakan tentang teori konsep diri.
Secara objektif, kedirian (self) dapat dikatakan sebagai kesadaran
terhadap diri sendiri dan bagaimana ia memandang orang
lain. Ahli yang telah menyelidiki kedirian itu di antaranya,
Charles Horton Cooley, Goerge Herbert Mead dan Sigmund
Freud, meskipun ketiganya memiliki konsep dan teori yang berbeda
sesuai dengan persepsi ilmiah masing-masing namun pada
dasarnya ketiga tokoh tersebut memiliki letak persamaan teoritis
(Faisal dan Yasik, 1998), sebagai berikut :
1. Kedirian itu bersifat sosial,
2. Kedirian itu membutuhkan masyarakat untuk menjelaskannya
secara sempurna, dan
3. Kesadaran individu terhadap dirinya timbul akibat pergaulan
dengan orang lain.
Dari penegasan tiga tokoh di atas lebih spesifik Broom dan
Selznick dalam Ahmadi (1991) memandang tiga cara sosialisasi
dalam upaya membentuk suatu tingkah laku. Pertama, dalam proses
sosialisasi itu seseorang mendapatkan bayangan dirinya (self
image). Bayangan diri itu timbul setelah ia memperhatikan cara
orang lain memandang dan memperlakukan seseorang, hal itu
bisa timbul akibat penilaian orang lain yang terus menerus memsuatu bayangan diri yang menguntungkan bagi perkembangan
seseorang, hal ini bisa timbul akibat penilaian orang lain..nmbnmbm mb
Kedua, dalam sosialisasi juga membentuk kedirian yang idealis
orang bersangkutan untuk mengetahui dengan pasti apa-apa
yang harus ia lakukan agar dapat memperoleh pujian dan rasa
cinta dari orang lain. Bentuk kedirian yang ideal itu juga berfungsi
untuk meningkatkan ketaatan si anak kepada norma-norma sosial.
Ketiga, pada akhirnya sosialisasi juga membentuk kedirian
manusia itu dengan jalan membangun suatu ego. Ego secara umum
dapat dikatakan sebagai fungsi pengontrol yang integratif dalam
diri seseorang. Menurut definisi yang populer, ego dapat dipersamakan
dengan hati nurani. Bila seseorang menginjak dewasa,
diharapkan ia dapat mengontrol dirinya sendiri seolah-olah orang
lain juga mengamatinya, meskipun sebenarnya mungkin tidak ada
orang lain yang memperhatikannya.
Begitulah konsepsi teoretis yang dikembangkan oleh beberapa
ahli dalam menanggapi masalah hakikat keberadaan seorang
individu terkait dengan lingkungan sosialnya. Secara singkat
dapat dikatakan sosialisasi merupakan upaya belajar sosial individu
untuk menyesuaikan kondisi, situasi dan sinergisitas antara
kebutuhan individu dengan tuntutan eksternalnya.
Oleh sebab itu di sisi lain muncul juga suatu konsepsi teoritis
tentang sosialisasi yang dimaknai sebagai proses penyesuaian diri.
Konsep penyesuaian diri ini berasal dari biologi, dan merupakan
konsep dasar yang digunakan Teori Evolusi Darwin. Dalam biologi,
istilah yang digunakan ialah adaptasi. Menurut teori tersebut
hanya organisme yang berhasil menyesuaikan diri terhadap
lingkungan fisiknya sajalah yang dapat tetap hidup.
Tingkah laku manusia itu diterangkan sebagai reaksi-reaksi
terhadap tuntutan atau tekanan dari lingkungan eksternalnya. Di
daerah yang dingin manusia harus berpakaian tebal untuk mengatasi
iklim. Contoh tersebut menunjukkan bahwa tingkah laku
manusia itu merupakan penyesuaian diri terhadap tuntutantuntutan
lingkungan fisik.
Namun karena manusia hidup dalam masyarakat, maka
tingkah lakunya bukan sekadar penyesuaian diri terhadap tuntutan-
tuntutan fisik lingkungan -nya, melainkan juga merupakan
penyesuaian diri terhadap tuntutan dan tekanan sosial dari luar.
Sehingga konsep adaptasi yang berasal dari biologi itu dalam ilmuilmu
sosial (khususnya Psikologi) mendapat istilah, adjusment.
Baik adaptasi maupun adjusment kita terjemahkan dengan “proses
penyesuaian diri terhadap lingkungan fisik maupun lingkungan
sosial”. Proses penyesuaian diri itu merupakan reaksi terhadap
tuntutan-tuntutan untuk dirinya. Tuntutan-tuntutan tersebut
dapat digolongkan menjadi tuntutan internal dan eksternal.
Keseimbangan antara pemenuhan dorongan internal dengan
penyesuaian terhadap tuntutan lingkungan luarnya akan menghasilkan
kepuasan bagi seorang individu. Adapun kepuasan itu
dapat berupa kepuasan psikis, efisiensi kerja atau pengakuan
sosial dari masyarakat atas kerja yang dilakukannya, sehingga
pada tahap selanjutnya akan mengkisahkan wujud keserasian
aktualisasi kebutuhan individu sebagai makhluk individu
maupun makhluk sosial. Namun apabila kedua komponen tersebut
justru menimbulkan benturan-benturan maka bisa memicu
konflik yang menghambat upaya pemenuhan kebutuhannya.
Oleh sebab itu diperlukan proses penyesuaian yang lebih
detail untuk mempertemukan kedua kutub ekstrim tersebut supaya
menemui keselarasan. Proses penyesuaian diri itu suatu proses
progresif yang memungkinkan individu dapat menguasai impulsimpuls
pribadinya maupun tuntutan lingkungannya. Adapun proses
penyesuaian itu dilalui dengan tiga tahap, yakni :
1. Tahap akomodasi, yakni rangkaian penyesuaian diri individu
untuk mengubah atau menahan impuls-impuls dalam dirinya.
Dalam tahap ini individu berusaha menahan diri dan menerima
cara hidup atau budaya masyarakatnya.
2. Tahap asimilasi, merupakan proses perpaduan akibat interaksi
titik ekstrim antara kepentingan individu dengan kondisikondisi
lingkungannya sehingga dapat menimbulkan hal-hal
yang benar-benar baru dari proses awal. Sebagai contoh, untuk
mengubah tanah pertanian yang tandus menjadi subur orang
menggunakan pupuk.
3. Tahap integrasi, adalah rangkaian upaya sistemik dari seorang
individu untuk mengorganisasikan hasil-hasil integrasi mutualistis
antara kepentingan-kepentingan tersebut ke dalam
suatu konteks kepribadian yang selaras dengan lingkungan
luarnya. Skema Proses Penyesuaian Diri Individu dengan Lingkungan Luarnya
Sosialisasi atau dengan kata lain disebut sebagai proses
belajar sosial merupakan proses yang berlangsung sepanjang
hidup (lifelong process), bermula sejak lahir hingga mati. Proses
sosialisasi itu terjadi dalam kelompok atau institusi sosial di dalam
masyarakat. Diantara kelompok atau institusi sosial yang berperan
penting dalam sosialisasi anak adalah keluarga, kelompok sebaya,
sekolah, kelompok keagamaan, perkumpulan pemuda, institusi
politik dan ekonomi, dan media massa.
Sosialisasi sebagai bagian dari pendidikan berlangsung dalam
tiga komponen penting yang menjadi faktor penentu terbentuknya
kepribadian seseorang. Oleh Ki Hadjar Dewantara faktor-faktor
tersebut dirangkum dalam satu istilah bernama Tri Pusat
Pendidikan, yaitu meliputi rumah atau keluarga, sekolah atau
lembaga pendidikan formal, masyarakat atau pendidikan non
formal.
a. Di rumah atau di dalam keluarga anak berinteraksi dengan
orang tua (atau pengganti orang tua) dan segenap anggota
keluarga lainnya. Ia memperoleh pendidikan informal, berupa
pembentukan pembiasaan-pembiasaan (habit formation) seeprti,
cara makan, tidur, bangun pagi, gosok gigi, mandi, cara berpakaian,
tata krama, sopan santun, religi dan lain sebagainya.
Pendidikan informal dalam keluarga akan banyak membantu
dalam meletakkan dasar pembentukan kepribadian anak.
Misalnya sikap religius, disiplin, lembut/kasar, rapi/rajin,
penghemat/pemboros, dan sebagainya dapat tumbuh, bersemi
dan berkembang senada dan seirama dengan kebiasaannya di
rumah.
b. Di sekolah anak berinteraksi dengan guru-guru (pengajar)
beserta bahan-bahan pendidikan dan pengajaran, temanteman
peserta didik lainnya, serta pegawa-pegawai tata usaha.
Ia memperoleh pendidikan formal (terprogram dan terjabarkan
dengan tetap) di sekolah berupa pembentukan nilai-nilai,
pengetahuan, keterampilan dan sikap terhadap bidang studi/
mata pelajaran. Akibat bersosialisasi dengan pendidikan formal,
terbentuklah kepribadiannya untuk tekun dan rajin
belajar disertai dengan keinginan untuk meraih cita-cita akademis
yang setinggi-tingginya.
c. Di masyarakat anak berinteraksi dengan seluruh anggota
masyarakat yang beraneka ragam (heterogen), seperti orangorang,
benda-benda, dan peristiwa-peristiwa. Ia memperoleh
pendidikan nonformal atau pendidikan luar sekolah berupa
berbagai pengalaman hidup. Agar masyarakat dapat melanjutkan
eksistensinya, maka kepada generasi muda harus diteruskan
atau diwariskan nilai-nilai, sikap, pengetahuan, keterampilan
dan bentuk-bentuk pola perilaku lainnya. Setiap
masyarakat meneruskan kebudayaannya (beserta perubahannya)
kepada generasi penerusnya melalui pendidikan dan
interaksi sosial. Dengan demikian pendidikan dapat diartikan
sebagai sosialisasi, dan belajar adalah sosialisasi yang berkesinambungan.
B. Beberapa Pendekatan dalam Sosialisasi
Bagaimana sosialisasi itu dilaksanakan ? Dalam studi sosiologi
para teoretikus mengemukakan beberapa teori sosialisasi yang
menjelaskan cara melakukan sosilasisasi, di mana cara-cara tersebut
merupakan proses komunikasi sosial dan komunikasi antarbudaya
yang selama ini sekaligus menjadi medium dari interaksi individu dalam dunia sosialnya. Teori tersebut yakni sebagai
berikut.
1. Teori Sosialisasi Pasif. Pertama, dari Talcot Parson,1959 dalam
Liliweri (2001) yang mengemukakan bahwa proses sosialisasi
merupakan bagian dari perspektif fungsionalisme. Sosialisasi
seperti belajar berlangsung terus selama hidup namun proses
yang paling dramatis dikaitkan dengan anak didik. Jadi, ada
proses yang mengharuskan perubahan terhadap struktur
kepribadian dasar. Di satu pihak, tuntutan anak didik harus
diubah namun di lain pihak anak didik masih bergantung
pada keteraturan dalam struktur dan fungsi, misalnya fungsi
keluarga. Kedua, sosialisasi dari Kluchkon yang konsepnya
didasarkan pada proses mengubah orientasi anak didik. Misalnya
orientasi nilai, orientasi terhadap kodrat, alam, waktu,
modalitas. Ketiga, sosialisasi dari Mc. Clelland bahwa keinginan
untuk mencapai prestasi pribadi, kebutuhan akan berprestasi
sudah merupakan keinginan setiap manusia. Ketiga-tiganya
tetap menekankan pengaruh dari struktur sosiokultur
dominan yang paling vital membentuk individu dalam proses
sosialisasi. Individu hanya sekadar bagian kecil dari sistem
sosial makro yang melingkupi kehidupannya hanya bermaksud
memberikan reaksi-reaksi pasif untuk menyesuaikan
tuntutan-tuntutan eksternal.
2. Teori Sosialisasi Aktif. Menurut Mead dalam Liliweri (2001)
manusia tidak saja merespon nilai baru tetapi menciptakan
peranannya dalam kondisi material di mana ia hidup agar bisa
sukses merespon hal baru. Kondisi itu hanya bisa dibentuk
melalui proses interaksi dengan orang lain.
3. Teori sosialisasi radikal, yang berlangsung dalam masyarakat
yang berlapis-lapis. Konsep ini mengacu pada hegemoni
Gramsci yang mengemukakan bahwa kemampuan kelompok
dominan selalu berusaha untuk mempertahankan statusnya
kemudian mensosialisasikan nilainya kepada yang lain.
C. Sekolah dan Sosialisasi
1. Hakikat Sekolah
Sekolah memegang peranan penting dalam proses sosialisasi
anak, walaupun sekolah merupakan hanya salah satu lembaga
yang bertanggung jawab atas pendidikan anak. Anak mengalami
perubahan dalam perilaku sosialnya setelah ia masuk ke sekolah.
Di rumah ia hanya bergaul dengan anggota keluarga yang terbatas
jumlahnya, terutama dengan anggota keluarga dan anak-anak
tetangga. Suasana dirumah bercorak informal dan banyak tindakan
yang diizinkan menurut suasana di rumah.
Anak itu mengalami suasana yang berbeda di sekolah. Ia
bukan lagi anak istimewa yang diberi perhatian khusus oleh ibu
guru, melainkan hanya salah seorang di antara puluhan murid
lainnya di dalam kelas. Dengan suasana kelas demikian, anak itu
melihat dirinya sebagai salah seorang di antara anak-anak lainnya.
Jadi di sekolah anak itu belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan
sosial yang baru yang memperluas keterampilan sosialnya.
Ia juga berkenalan dengan anak yang berbagai ragam latar
belakang dan belajar untuk menjalankan peranannya dalam
struktur sosial yang dihadapinya di sekolah.
Dalam perkembangan fisik dan psikologis anak, selanjutnya
anak memperoleh pengalaman-pengalaman baru dalam hubungan
sosialnya dengan anak-anak lain yang berbeda status sosial,
kesukuan, agama, jenis kelamin dan kepribadiannya. Lambat laun
ia membebaskan diri dari ikatan rumah tangga untuk mencapai
kedewasaan dalam hubungan sosialnya dengan masyarakat luas.
Sebagian besar proses sosialisasi terjadi secara informal.
Namun tiap-tiap masyarakat mengenal institusi sosial khusus
tempat berlangsungnya proses sosialisasi secara formal yang
disebut sekolah. Dalam sejarah telah diketemukan sekolah-sekolah
di Mesir dan Tiongkok Kuno kira-kira 2000 tahun sebelum
Masehi. Sekolah-sekolah tempat mendidik para pendeta dan
ulama hampir terdapat pada semua masyarakat. Pada zaman
dahulu pendidikan sekolah merupakan hak istimewa bagi
golongan elite, baik golongan politik, agama, militer maupun
ekonomi.
Dewasa ini pendidikan sekolah menjadi makin penting dan
mencakup ruang lingkup yang lebih luas. Masyarakat modern
menuntut adanya pendidikan sekolah yang bersifat massal. Untuk
itu masyarakat modern mencurahkan investasinya kepada institusi-
institusi pendidikan. Seperti proses sosialisasi pada umumnya,
pendidikan sekolah mempunyai dua aspek penting, yaitu
aspek individual dan sosial. Di satu pihak pendidikan sekolah
bertugas mempengaruhi dan menciptakan kondisi yang memungkinkan
perkembangan pribadi anak secara optimal. Di pihak lain pendidikan sekolah bertugas mendidik agar anak mengabdikan
dirinya kepada masyarakat.
Menurut Webster, 1991 (dalam Hasbullah, 1999) sekolah
merupakan tempat atau institusi/lembaga yang secara khusus
didirikan untuk menyelenggarakan proses belajar mengajar atau
pendidikan. Sebagai institusi, sekolah merupakan tempat untuk
mengajar murid-murid, tempat untuk melatih dan memberi
instruksi-instruksi tentang suatu lapangan keilmuan dan keterampilan
tertentu kepada siswa. Tempat yang dinamakan sekolah itu
merupakan satu kompleks bangunan, laboratorium, fasilitas fisik
yang disediakan sebagai pusat kegiatan belajar dan mengajar.
Berdasarkan pendapat itu maka sekolah mengandung dua
makna, secara fisik sekolah terdiri dari bangunan-bangunan
gedung dan laboratorium, jadi sekolah dalam artian material.
Sedangkan yang nonfisik terdiri dari sistem-sistem hubungan
antara mereka yang ditugaskan untuk mengajar (guru, pelatih dan
lain-lain) dengan yang diajar (murid, siswa), jadi sekolah dalam
artian spiritual.
Kedua artian tersebut di atas saling mendukung, misalnya
guru tidak bisa mengajar, mensosialisasikan nilai-nilai (artian
spritual) dengan sempurna apabila tidak didukung oleh fasilitas
(artian material) belajar-mengajar yang memadai. Baik artian
material maupun spiritual, sekolah tetap sekolah, dia merupakan
suatu “area” khusus dalam strata sosial dan budaya masyarakat
sehingga eksistensi sekolah yang mendidik manusia tidak dapat
dipisahkan dengan konteks masyarakat. Jadi sekolah merupakan
salah satu agen sosialisasi norma dan nilai, sekolah merupakan
tempat lembaga (institusi) pendidikan menyelenggarakan seluruh
kegiatannya baik praktis maupun substantif.
Gambar berikut ini menjelaskan kedudukan manusia sebagai
individu dalam lingkungan sosial dan budaya masyarakat.
Gambar 3
Kedudukan Manusia dalam Lingkungan Sosial dan Budaya Masyarakat
Secara sosiologis, pendidikan juga mencakup proses
sosialisasi yang dilembagakan melalui sekolah sebagai institusi,
karena kita membawa anak-anak dari lingkungan keluarga ke
lingkungan yang lebih luas. Perbuatan ini sama saja dengan
mengalihkan perhatian kita dari pembentukan identitas individu
dalam suatu unit keluarga kepada pembentukan struktur sosial
yang lebih luas dan pada gilirannya akan saling memberikan
pengaruh oleh identitas tersebut. Jadi, kita beralih dari suatu
orientasi mikro ke makro yang dengan logika itu maka
pendidikan secara bersistem tetap diperlukan untuk memanusiakan
manusia utuh dan kaya arti.
Sebagaimana telah terungkap dalam Liliweri (2001) ada beberapa
gagasan teoretis yang dapat digunakan untuk menjelaskan
pentingnya pendidikan modern bagi manusia. Pertama, Teori
Fungsionalisme dari Collins. Teori ini berpendapat bahwa sistem pendidikan modern berasal dari kebutuhan riil fungsional di
lapangan. Sebagai contoh, industrialisasi telah menyebabkan
semakin besarnya tuntutan tingkat keterampilan kerja. Akibatnya,
pendidikan harus diperluas agar anak didik berfungsi sesuai
dengan kebutuhan untuk mengisi struktur kerja. Ahli lain yang
memfokuskan diri membahas peran utama sekolah dalam masyarakat
adalah Talcot Parsons tahun 1959, yang tulisan-tulisannya
menganut pendekatan aliran fungsionalis. Parsons melakukan
suatu upaya ilmiah untuk menunjukkan fungsi mendasar dari
sekolah sebagai perantara hubungan lintas lembaga pendidikan
primer menuju orientasi pendidikan sekunder di mana anak yang
sebelumnya mendapat pembinaan dan naungan kehidupan
keluarga maka di dalam sekolah anak akan dipersiapkan untuk
mempelajari peran-peran orang dewasa dalam struktur sosial
masyarakat modern. Dalam Mifflen (1986) dia melihat dua fungsi
dari peran sekolah yaitu:
a. Mengarahkan anak dari orientasi kekhususan ke orientasi
yang universal serta dari orientasi askriptif menuju orientasi
prestasi (meritokratis), dan
b. Alokasi seleksi atau diferensial ke peran-peran dewasa yang
mendapat kedudukan tidak sama.
Analisis fungsionalnya Parsons didasarkan pada konsepsi
teoretisnya yang disebut sistem nilai umum dan kebutuhan untuk
mengalokasikan individu pada peran-peran tertentu dalam
masyarakat. Sekolah merupakan struktur utama untuk menanamkan
sistem nilai umum ini terutama untuk mengarahkan individu
ke berbagai peran-peran orang dewasa.
Kedua, Teori Marx . Menurut Marx bahwa sistem pendidikan
modern timbul sebagai sistem disiplin kerja bagi usaha menguatnya
pembagian kerja antara kelas pekerja dengan kelas penguasa
kapital. Kebutuhan para kapitalis telah mengisi pendidikan
sehingga tidak memberikan kesempatan pada kelas pekerja
mengenyam pendidikan. Dalam Teori Marxis pendidikan
merupakan suatu lembaga lain yang berada di bawah kekuatan
superstruktur kapitalis tersebut. Tujuannya adalah untuk melegitimasi
interaksi eksploitatif kepada kaum proletar dengan mendasarkan
pada faktor-faktor produksi yang tercermin dalam struktur
sosialnya.
Ketiga, Teori Inflasi Kredensial dari Collins dan Dore.
Menurut mereka bahwa pendidikan adalah komoditas bernilai
tinggi yang dicari oleh individu-individu sebagai alat sukses
ekonomi dan mobilitas ke atas. Sistem pendidikan menjadi suatu
fokus untuk mendapatkan diploma dan gelar kesarjanaan.
Terjadilah apa yang disebut dengan Inflasi Kredensial (Inflasi
Ijasah), karena penyelenggara pendidikan cenderung mengejar
jumlah tamatan (kuantitas) sedangkan prinsip kualitas kurang
mendapat perhatian. Akibatnya terjadi kelebihan ijasah sehingga
ada ijasah yang tidak dapat digunakan.
Keempat, Teori Pendidikan sebagai pembangunan bangsa.
Asumsi teori ini adalah pendidikan massal modern timbul dan
meluas untuk dapat memberi sosialisasi intensif kepada individuindividu
yang menjadi warga negara yang layak dalam masyarakat
modern, rasionalistis dan industri maju berteknologi tinggi.
Pendidikan menjadi suatu alat besar yang mengikat individuindividu
pada tujuan sistem politik modern dalam meningkatkan
pembangunan ekonomi dan modernisasi masyarakat secara
menyeluruh.
Beberapa konsep teoretis di atas telah memaparkan rangkaian
analisis tentang peran dan fungsi lembaga sekolah dalam kehidupan
masyarakat khususnya menjadi salah satu agen sosialisasi
bagi individu. Tentu saja masing-masing konsep tersebut memiliki
signifikansi yang berbeda-beda terhadap model penerapan dan
realitas pendidikan (sekolah) kita. Sesuai dengan konstruksi sosial
dan kebudayaan yang terbentuk maka secara prinsipil model
pendidikan kita diarahkan pada tipe birokratis bagi seluruh
kalangan (education for all) dengan fokus teori pendidikan untuk
membangun bangsa.
Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah yang lahir dan
berkembang di dalam masyarakat merupakan perangkat yang
berkewajiban memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam
mendidik warga negara. Sekolah di kelola secara formal, hierarkis
dan kronologis yang berhaluan pada falsafah dan tujuan nasional
suatu bangsa.
2. Sifat-Sifat Lembaga Pendidikan Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan kedua setelah
keluarga yang bersifat formal namun tidak kodrati. Kendatipun emikian banyak orang tua (dengan berbagai alasan) menyerahkan
tanggung jawab pendidikan anaknya kepada sekolah.
Dari kenyataan tersebut, maka menurut Hasbullah (1999)
sifat-sifat dari pendidikan sekolah tersebut adalah:
a. Tumbuh Sesudah Keluarga (pendidikan kedua)
Dalam sebuah keluarga tidak selamanya tersedia kesempatan
dan kesanggupan memberikan pendidikan kepada anaknya,
sehingga keluarga menyerahkan tanggung jawabnya kepada
sekolah. Di sekolah, anak-anak memperoleh kecakapan seperti
membaca, menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu
yang lain. Di samping itu juga diberikan pelajaran menghargai
keindahan, membedakan benar dan salah serta pendidikan
agama. Materi-materi tersebut jelas sangat sulit diselenggarakan
di lingkungan keluarga.
b. Lembaga Pendidikan Formal
Dinamakan lembaga pendidikan formal, karena sekolah
mempunyai bentuk yang jelas, dalam arti memiliki program
yang telah direncanakan dengan teratur dan ditetapkan
dengan resmi, misalnya di sekolah ada rencana pengajaran,
jam pelajaran dan peraturan lain yang menggambarkan bentuk
sekolah secara keseluruhan.
c. Lembaga Pendidikan yang Tidak Bersifat Kodrati
Lembaga pendidikan didirikan atas dasar hubungan darah
antara guru dan murid seperti halnya di keluarga, tetapi
berdasarkan hubungan yang bersifat formal. Murid juga secara
kodrat harus mengikuti pendidikan sekolah tertentu, karena
itu sekolah merupakan pendidikan yang tidak bersifat kodrati.
Dalam hal ini sudah barang tentu hubungan antara pendidik
dan anak didik di sekolah tidak seakrab hubungan di dalam
kehidupan keluarga, sebab di antara guru dan murid tidak ada
ikatan berdasarkan hubungan darah, di samping itu terlalu
banyak murid yang harus dihadapi oleh guru.
3. Fungsi dan Peranan Lembaga Sekolah
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa jalur pendidikan
sekolah/formal merupakan jalur pendidikan yang terstruktur dan
berjenjang (Pasal 1 ayat 10).
Peranan sekolah sebagai lembaga yang membantu lingkungan
keluarga, maka sekolah bertugas mendidik dan mengajar serta
memperbaiki dan memperhalus tingkah laku anak didik yang
dibawa dari keluarganya. Sementara dalam perkembangan kepribadian
anak didik, peranan sekolah dengan melalui kurikulum,
antara lain yaitu,
a. Anak didik belajar bergaul sesama anak didik, antara guru
dengan anak didik, dan antara anak didik dengan orang yang
bukan guru (karyawan).
b. Anak didik belajar mentaati peraturan-peraturan sekolah.
c. Mempersiapkan anak didik untuk menjadi anggota masyarakat
yang berguna bagi agama, bangsa dan negara.
Jelasnya bisa dikatakan bahwa sebagian besar pembentukan
kecerdasan (pengertian), sikap dan minat sebagai bagian dari
pembentukan kepribadian, dilaksanakan oleh sekolah. Kenyataan
ini menunjukkan, betapa penting dan besar pengaruh dari
sekolah.
Tentang fungsi sekolah itu sendiri, sebagaimana yang dipaparkan
oleh Suwarno,1990 (dalam Hasbullah ,1999) adalah sebagai
berikut:
a. Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan;
di samping bertugas untuk mengembangkan pribadi
anak didik secara menyeluruh, fungsi sekolah yang lebih
penting sebenarnya adalah menyampaikan pengetahuan dan
melaksanakan pendidikan kecerdasan. Fungsi sekolah dalam
pendidikan intelektual dapat disamakan dengan fungsi
keluarga dalam pendidikan moral.
b. Spesialisasi; sebagai konsekuensi makin meningkatnya kemajuan
masyarakat ialah makin bertambahnya diferensiasi sosial
yang melaksanakan tugas tersebut. Sekolah mempunyai fungsi
sebagai lembaga sosial yang spesialisasinya dalam bidang
pendidikan dan pengajaran.
c. Efisiensi; terdapatnya sekolah sebagai lembaga sosial yang
berspesialisasi di bidang pendidikan dan pengajaran, maka
pelaksanaan pendidikan dan pengajaran dalam masyarakat
menjadi lebih efisien, sebab:
1) Apabila tidak ada sekolah dan pekerjaan mendidik hanya
harus dipikul oleh keluarga, maka hal ini tidak akan efisien, karena orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaannya,
serta banyak orang tua tidak mampu melaksanakan
pendidikan dimaksud,
2) Oleh karena pendidikan sekolah dilaksanakan dalam program
yang tertentu dan sistematis, dan
3) Di sekolah dapat dididik sejumlah besar anak secara
sekaligus.
d. Sosialisasi; sekolah mempunyai peranan yang penting di
dalam proses sosialisasi, yaitu proses membantu perkembangan
individu menjadi makhluk sosial, makhluk yang dapat
beradaptasi dengan baik di masyarakat. Sebab bagaimanapun
pada akhirnya dia berada di masyarakat.
e. Konservasi dan transmisi kultural;
Fungsi lain dari sekolah adalah memelihara warisan budaya
yang hidup dalam masyarakat dengan jalan menyampaikan
warisan kebudayaan tadi (transmisi kultural) kepada generasi
muda, dalam hal ini tentunya adalah anak didik.
f. Transisi dari rumah ke masyarakat; ketika berada di keluarga,
kehidupan anak serba menggantungkan diri pada orang tua,
maka memasuki sekolah di mana ia mendapat kesempatan
untuk melatih berdiri sendiri dan tanggung jawab sebagai
persiapan sebelum ke masyarakat.
D. Keluarga dan Sosialisasi
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan
yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama
mendapatkan didikan dan bimbingan. Juga dikatakan lingkungan
yang utama, karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di
dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima
oleh anak adalah dalam keluarga.
Tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak adalah
sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan
hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil
dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga yang lain.
Di dalam pasal 1 UU Perkawinan Nomor 1 tahun 1974 dinyatakan
bahwa perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara
seorang pria dan seoarang wanita sebagai suami isteri dengan
tujuan membentuk keluarga yang bahadia dan sejahtera, berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa. Anak yang lahir dari perkawinan
ini adalah anak yang sah dan menjadi hak serta tanggung jawab
kedua orang tuanya. Memelihara dan mendidiknya, dengan
sebaik-baiknya. Kewajiban kedua orang tua mendidik anak ini
terus berlanjut sampai ia dikawinkan atau dapat berdiri sendiri.
Dari definisi tersebut dapat dirumuskan intisari pengertian
keluarga, yaitu sebagai berikut,
1. Keluarga merupakan kelompok sosial kecil yang umumnya
terdiri atas ayah, ibu, dan anak,
2. Hubungan sosial di antara anggota keluarga relatif tetap dan
didasarkan atas ikatan darah, perkawinan dan / atau adopsi,
3. Hubungan antar anggota keluarga dijiwai oleh suasana afeksi
dan rasa tanggung jawab, dan
4. Fungsi keluarga adalah memelihara, merawat, dan melindungi
anak dalam rangka sosialisasinya agar mereka mampu
mengendalikan diri dan berjiwa sosial.
Dengan demikian terlihat betapa besar tanggung jawab orang
tua terhadap anak. Bagi seorang anak, keluarga merupakan persekutuan
hidup pada lingkungan keluarga tempat di mana ia
menjadi diri pribadi atau diri sendiri. Keluarga juga merupakan
wadah bagi anak dalam konteks proses belajarnya untuk
mengembangkan dan membentuk diri dalam fungsi sosialnya. Di
samping itu, keluarga merupakan tempat belajar bagi anak dalam
segala sikap untuk berbakti kepada Tuhan sebagai perwujudan
nilai hidup yang tertinggi.
Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang pertama dan
utama bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup dan
pendidikan anak adalah orang tua.
1. Perkembangan Fungsi dan Peranan Keluarga
Keluarga merupakan institusi sosial yang bersifat universal
dan multifungsional. Fugnsi pengawasan, sosial, pendidikan,
keagamaan, perlindungan, dan rekreasi dilakukan oleh keluarga
terhadap anggota-anggotanya. Oleh karena proses industrialisasi,
urbanisasi dan sekularisasi maka keluarga dalam masyarakat
modern kehilangan sebagian dari fungsi-fungsi tersebut di atas.
Meskipun perubahan masyarakat telah mendominasi, namun fungsi utama keluarga tetap melekat, yaitu melindungi, memelihara,
sosialisasi, dan memberikan suasana kemesraan bagi
anggotanya.
Menurut Vembriarto (1990) ada tiga macam fungsi yang tetap
melekat sebagai cirri hakiki keluarga, yaitu sebagai berikut.
a. Fungsi biologis
Keluarga merupakan tempat lahirnya anak-anak, fungsi biologis
orang tua ialah melahirkan anak. Fungsi ini merupakan
dasar kelangsungan hidup masyarakat. Namun fungsi ini juga
mengalami perubahan, keluarga sekarang cenderung menyukai
jumlah anak yang sedikit. Kecenderungan ini dipengaruhi
oleh faktor-faktor sebagai berikut, : (1) perubahan tempat
tinggal keluarga dari desa ke kota, (2) makin sulitnya fasilitas
perumahan, (3) banyaknya anak dipandang sebagai hambatan
untuk mencapai sukses material keluarga, (4) banyak anak
dipandang sebagai penghambat tercapai kemesraan dalam
keluarga, (5) meningkatnya taraf pendidikan wanita berakibat
berkurangnya kesuburan kandungan, (6) menipisnya pengaruh
ajaran agama yang menekankan agar keluarga mempunyai
banyak anak, (7) makin banyaknya ibu-ibu yang bekerja
di luar rumah, dan (8) makin meluasnya pengetahuan dan
penggunaan alat-alat kontrasepsi.
b. Fungsi afeksi
Dalam keluarga terjadi hubungan sosial yang penuh dengan
afeksi-afeksi kemesraan. Hubungan afektif ini tumbuh sebagai
akibat hubungan cinta kasih yang menjadi dasar perkawinan.
Dari hubungan cinta kasih ini lahirlah hubungan persaudaraan,
persahabatan, kebiasaan, identifikasi, persamaan
pendangan mengenai nilai-nilai. Dasar cinta kasih dan hubungan
afektif ini merupakan faktor penting bagi perkembangan
pribadi anak. Dalam masyarakat yang makin impersonal,
sekuler dan asing, pribadi sangat membutuhkan hubungan
afeksi yang secara khusus hanya terdapat dalam
kehidupan keluarga.
c. Fungsi sosialisasi
Fungsi sosialisasi ini menunjuk peranan keluarga dalam
membentuk kepribadian anak. Melalui interaksi sosial dalam
keluarga itu anak mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap,
keyakinan, cita-cita dan nilai-nilai dalam masyarakat dalam
proses perkembangan pribadinya.
Apabila kita perhatikan kecenderungan yang membawa
proses perkembangan zaman dari waktu ke waktu maka perlu
ada adaptasi lembaga-lembaga kehidupan (termasuk keluarga)
agar tetap mampu mempertahankan peranan dan fungsi, khususnya
di zaman yang kian modern, sekularistis dan materialistis ini.
Perubahan sosial yang datang bertubi-tubi rupanya telah membawa
pengaruh perubahan orientasi kehidupan keluarga dari
keluarga tradisional mengarah pada keluarga modern. Keluarga
tradisional pada umumnya masih merupakan kesatuan produksi,
sedangkan keluarga modern cenderung berorientasi pada
kesatuan konsumsi.
Proses perubahan ekonomi pada masyarakat industri telah
mengubah sifat keluarga, dari institusi pedesaan yang agraris
menuju ke institusi perkotaan yang bernuansa industrialis.
Dengan demikian peranan anggota-anggota keluarga juga mengalami
perubahan. Fungsi produksi hilang, keluarga menjadi
kesatuan konsumsi semata-mata. Keluarga di kota tidak lagi melakukan
fungsi produksi langsung.
Anggota-anggota keluarga bekerja di luar untuk mendapatkan
upah atau gaji, sebagai sarana untuk mencukupi kebutuhankebutuhan
hidupnya (makanan, pakaian, dan lain-lain). Pergeseran
fungsi produksi keluarga itu tampak pada tumbuh kembangnya
industri pakaian jadi, alat-alat rumah tangga, makanan,
toko makanan, restoran, supermarket, dan sebagainya.
Oleh karena itu di sini juga akan dipaparkan fungsi-fungsi
keluarga yang mengalami pergeseran sebagai akibat pengaruh
dari gencarnya perubahan sosial yang melingkupi aktivitas-aktivitasnya.
Fungsi-fungsi sosial yang mengalami perubahan itu
antara lain yaitu,
a. Fungsi pendidikan
Dahulu keluarga merupakan satu-satunya institusi pendidikan.
Fungsi pendidikan keluarga ini telah mengalami
banyak perubahan. Secara informal fungsi pendidikan keluarga
masih tetap penting, namun secara formal fungsi pendidikan
itu telah diambil alih oleh sekolah. Proses pendidikan di penting. Apabila dulu fungsi sekolah terbatas pada pendidikan
intelek, maka kecenderungan sekarang pendidikan
sekolah diarahkan kepada anak sebagai seorang pribadi. Guru
dengan bantuan konselor, psikolog sekolah, psikolog klinis,
dan pekerja sosial bersama-sama membantu anak agar mereka
berhasil menyesuaikan diri dalam masyarakat.
b. Fungsi rekreasi
Dulu keluarga merupakan medan rekreasi bagi anggotaanggotanya.
Sekarang pusat-pusat rekreasi di luar keluarga,
seperti gedung bioskop, panggung sirkus, lapangan olah raga,
kebun binatang, taman-taman, nightclub, komunitas pengguna
jasa internet dan lain sebagainya dipandang lebih menarik.
Demikian pula rekreasi dalam kelompok sebaya menjadi
makin penting bagi anak-anak. Perubahan tersebut menimbulkan
dua macam akibat, yaitu jenis-jenis rekreasi yang dialami
oleh anggota-angota keluarga menjadi lebih bervariasi, dan
anggota-anggota keluarga lebih cenderung mencari hiburan di
luar keluarga.
c. Fungsi keagamaan
Dulu keluarga merupakan pusat pendidikan upacara ritual
dan ibadah agama bagi para anggotanya di samping peranan
yang dilakukan oleh institusi agama. Proses sekularisasi dalam
masyarakat dan merosotnya pengaruh institusi agama menimbulkan
kemunduran fungsi keagamaan keluarga.
d. Fungsi perlindungan
Dahulu keluarga berfungsi memberikan perlindungan, baik
fisik maupun sosial, kepada para anggotanya. Sekarang
banyak fungsi perlindungan dan perawatan ini telah diambil
alih oleh badan-badan sosial, seperti tempat perawatan bagi
anak-anak cacat tubuh dan mental, anak yatim piatu, anakanak
nakal, orang-orang lanjut usia, perusahaan asuransi dan
sebagainya.
2. Keluarga sebagai Kelompok Primer
Proses perubahan masyarakat dari masarakat agraris yang
masih tradisional ke arah masyarakat industri yang bernuansa
modern telah mempengaruhi perubahan organisasi keluarga,
yaitu dari extended family cenderung berubah ke arah nuclear
family. Industrialisasi merupakan sebab utama perubahan dari
bentuk lama extended family itu kepada bentuk baru nuclear family.
Ada tiga alasan yang menyebabkan perubahan tersebut, yaitu
sebagai berikut.
a. Industrialisasi menyebabkan nuclear family menjadi lebih
bersifat dinamis, mudah berpindah dari satu tempat ke tempat
yang lain. Keluarga tidak lagi terikat oleh sebidang tanah
untuk penghidupannya, melainkan mereka akan berpindah ke
tempat di mana ada pekerjaan. Mobilitas keluarga ini akan
melemahkan ikatan kekerabatan dalam extended family,
b. Industrialisasi dapat mempercepat emansipasi wanita, karena
memungkinkan wanita untuk mendapatkan pekerjaan di luar
rumah tangga. Emansipasi ini menyebabkan lemahnya fungsifungsi
extended family di satu sisi, dan memperkuat fungsi
nuclear family di sisi lain, dan
c. Industrialisasi telah menimbulkan corak kehidupan ekonomi
baru dalam masyarakat. Dalam masyarakat agraris, semua
anggota keluarga baik itu anak-anak, wanita, para orang tua
dapat turut serta dalam proses produksi pertanian. Extended
family memberikan keuntungan ekonomi. Dalam masyarkat
industri, anak-anak, orang tua, orang cacat, tidak dapat turut
serta dalam proses produksi di pabrik. Mereka justru menjadi
beban keluarga.
Nuclear family merupakan kelompok primer. Kelompok
primer ialah kelompok kecil yang ciri-cirinya antara lain adalah
hubungan antaranggotanya intim, kooperatif, dan biasanya face to
face, masing-masing anggota memperlakukan anggota yang lain
sebagai tujuan bukannya sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Keluarga merupakan suatu sistem jaringan interaksi pribadi.
Keluarga berperan menciptakan persahabatan, kecintaan, rasa
aman, hubungan antarpribadi yang bersifat kontinu; semua itu
merupakan dasar-dasar bagi perkembangan kepribadian anak.
Sebagai kelompok primer, keluarga berpengaruh besar terhadap
anggota-anggotanya, karena,
a. Keluarga memberikan kesempatan yang unik kepada anggotanya
untuk menyadari dan memperkuat nilai kepribadiannya. untuk menampakkan kepribadiannya. Kesempatan ini sangat
penting bagi sosialisasi anak karena dengan cara demikian
individu membangun harga dirinya.
b. Keluarga mengatur dan menjadi perantara hubungan anggotaanggotanya
dengan dunia luar. Dalam hubungan tersebut
dapat dibedakan menjadi dua macam corak keluarga, yaitu,
1) Keluarga terbuka, yaitu keluarga yang mendorong anggota-
anggotanya untuk bergaul dengan masyarakat luas.
Anak bebas bergaul dengan teman-temannya. Ayah dan
ibu mempunyai banyak kenalan. Keluarga terbuka bagi
tamu. Anggota keluarga mempunyai perhatian terhadap
masalah-masalah kemasyarakatan. Keluarga yang bersifat
terbuka lebih sedikit mengalami ketegangan-ketegangan
daripada keluarga yang bersifat tertutup, sebab pergaulan
dengan dunia luar itu dapat menghilangkan atau mengurangi
beban-beban emosional.
2) Keluarga tertutup, yaitu keluarga yang menutup diri terhadap
hubungan dengan dunia luar. Keluarga yang tertutup
menghadapi orang luar dengan kecurigaan. Hubungan
sosial yang intim, kecintaan, afeksi, terbatas dalam lingkungan
keluarga sendiri. Karena tekanan-tekanan batin
tidak dapat disalurkan keluar dalam hubungan sosial
dengan dunia luar, maka kemarahan, kekecewaan ditumpahkan
kepada keluarga sendiri. Akan tetapi keluarga
yang tertutup lebih intim.
3. Sosialisasi dalam Keluarga
Dari pembahasan di atas dapat diketahui, bahwa keluarga
merupakan institusi yang paling penting pengaruhnya terhadap
proses sosialisasi individu atau seseorang.
Kondisi-kondisi yang menyebabkan pentingnya peranan
keluarga dalam proses sosialisasi anak, ialah:
a. Keluarga merupakan kelompok kecil yang anggota-anggotanya
berinteraksi face to face secara tetap. Dalam kelompok yang
demikian perkembangan anak dapat diikuti dengan seksama
oleh orang tuanya dan penyesuaian secara pribadi dalam
hubungan sosial lebih mudah terjadi.
b. Orang tua mempunyai motivasi yang kuat untuk mendidik
anak karena merupakan buah cinta kasih hubungan suami
isteri. Anak merupakan perluasan biologis dan sosial orang
tuanya. Motivasi kuat ini melahirkan hubungan emosional
antara orang tua dengan anak. Penelitian-penelitian membuktikan
bahwa hubungan emosional lebih berarti dan efektif
daripada hubungan intelektual dalam proses sosialisasi.
c. Oleh karena hubungan sosial di dalam keluarga itu bersifat
relatif tetap, maka orang tua memainkan peranan sangat
penting terhadap proses sosialisasi anak.
Keluarga sebagai lembaga pertama dan utama yang memberikan
pendidikan kepada individu secara lahir maupun batin untuk
tumbuh dan berkembang hingga sang anak menginjak dewasa.
Dalam hal ini beberapa aspek tujuan sosialisasi yang dilaksanakan
oleh keluarga untuk masyarakat modern seperti mengajarkan
bermacam-macam keterampilan, telah diambil alih oleh lembaga
sekolah atau institusi sosial yang lain.
Tujuan Sosialisasi dalam Keluarga
Secara mendasar terdapat tiga tujuan sosialisasi di dalam
keluarga, yakni sebagai berikut.
a. Penguasaan diri
Masyarakat menuntut penguasaan diri pada anggota-anggotanya.
Proses mengajar anak untuk menguasai diri ini dimulai
pada waktu orang tua melatih anak untuk memelihara kebersihan
dirinya. Ini merupakan tuntutan sosial pertama yang
dialami oleh anak untuk latihan penguasaan diri. Tuntutan
penguasaan diri ini berkembang, dari yang bersifat fisik
kepada penguasaan diri secara emosional. Anak harus belajar
menahan kemarahannya terhadap orang tua atau saudarasaudaranya.
Tuntutan sosial yang menuntut agar anak
menguasai diri merupakan pelajaran yang berat bagi anak.
b. Nilai-nilai
Bersama-sama dengan proses berlatih penguasaan diri ini
kepada anak diajarkan nilai-nilai. Penelitian-penelitian menunjukkan
bahwa nilai-nilai dasar dalam diri seseorang terbentuk
pada usia enam tahun. Di dalam perkembangan usia tersebut
keluarga memegang peranan terpenting dalam menanamkan permainannya dapat dpinjamkan kepada temannya, maka di
situ dapat muncul suatu makna tentang arti dari kerja sama.
Mengajarkan anak menguasai diri agar tidak bermain-main
dahulu sebelum menyelesaikan pekerjaan rumahnya, maka di
situ mengandung ajaran tentang nilai sukses dalam pekerjaan.
c. Peran-peran sosial
Mempelajari peran-peran sosial ini terjadi melalui interaksi
sosial dalam keluarga. Setelah dalam diri anak berkembang
kesadaran diri sendiri yang membedakan dirinya dengan
orang lain, dia mulai mempelajari peranan-peranan sosial
yang sesuai dengan gambaran tentang dirinya. Dia mempelajari
peranannya sebagai anak, sebagai saudara (kakak/adik),
sebagai laki-laki/perempuan, dan sebagainya. Proses mempelajari
peran-peran sosial ini kemudian dilanjutkan di
lingkungan kelompok sebaya, sekolah, perkumpulan-perkumpulan
dan lain sebagainya.
Ciri yangMelekat pada Keluarga
Keluarga merupakan lingkup kehidupan yang paling berpengaruh
terhadap perjalanan seorang individu, maka peran
keluarga dalam hubungan sosialisasi anak juga dipengaruhi oleh
ciri yang melekat di dalam keluarga tersebut. Anak yang tumbuh
kembang menjadi seorang pribadi yang utuh merupakan
cerminan dari hubungan antara kedua aspek tersebut. Ciri yang
melekat pada keluarga itu dapat di bagi menjadi dua yakni
sebagai berikut.
a. Aspek Internal (Corak Hubungan antara Orang Tua dan Anak)
Para ahli sepakat bahwa cara meresepnya nilai-nilai sosial ke
dalam diri individu dalam awal perkembangan kepribadiannya
diperoleh melalui hubungan-hubungannya dengan manusiamanusia
dewasa, khususnya orang tua. Nilai-nilai dan pola
tingkah laku diinternalisasikan ke dalam diri anak hanya bisa
tercakup dalam konteks hubungan yang intensif, melibatkan
partisipasi lahir maupun batin, face to face dan kontinu. Dalam hal
ini tentunya corak hubungan yang mampu memproduk pribadi
seorang individu satu-satunya diperankan oleh lembaga keluarga.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fels Research Institute,
pola hubungan orang tua-anak dapat dibedakan menjadi tiga
yaitu,
1) Pola menerima-menolak, pola ini didasarkan atas taraf
kemesraan orang tua terhadap anak,
2) Pola memiliki-melepaskan, pola ini didasarkan atas seberapa
besar sikap protektif orang tua terhadap anak. Pola ini bergerak
dari sikap orang tua yang overprotektif dan memiliki
anak sampai kepada sikap mengabaikan anak sama sekali, dan
3) Pola demokrasi-otokrasi, pola ini didasarkan atas taraf partisipasi
anak dalam menentukan kegiatan-kegiatan dalam
keluarga. Pola otokrasi berarti orang tua bertindak sebagai
diktator terhadap anak, sedangkan pola demokrasi, sampai
batas-batas tertentu dapat melibatkan partisipasi anak untuk
menentukan keputusan-keputusan keluarga.
Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bersuasana
demokratis, memiliki karakter perkembangan yang luwes dan
dapat menerima kekuasaan secara rasional. Sebaliknya anak yang
dibesarkan dalam suasana keluarga otoriter, memandang kekuasaan
sebagai sesuatu yang harus ditakuti dan bersifat sakral.
Tentu saja akibat pola-pola hubungan antaranggota keluarga
tersebut dapat membentuk suatu wujud kepribadian-kepribadian
tertentu kepada sang anak. Dalam pola otoriter misalnya, anak
akan berkembang menjadi individu yang penakut atau tunduk
kepada peraturan secara membabi buta, bahkan jika hal itu
mengisahkan suatu tragedi maka sang anak akan menjadi
manusia patologis yang selalu menentang kekuasaan.
b. Aspek Sosial
Aspek ini menyangkut status sosial yang dimiliki oleh
keluarga tersebut di dalam struktur dan status kehidupan masyarakatnya.
Secara internal hubungan orang tua yang menyandang
status pekerjaan dan kedudukan sosial tertentu di dalam
masyarakatnya dapat juga mempengaruhi karakter kepribadian
dalam mendidik anak. Menurut penelitian yang dilakukan oleh
Universitas Chicago sekitar tahun 1940-an menyimpulkan bahwa
keluarga kelas sosial menengah kurang menerapkan hukuman
badan, lebih mendorong tercapainya prestasi, dan memberikan
tanggung jawab secara leluasa dan bebas kepada sang anak. atar belakang perilaku dan pola-pola tindakan yang diterapkan
oleh orang tua dalam menerapkan metode interaksi pendidikan
terhadap sang anak ternyata juga merupakan hasil pengaruh dari
kelas sosial yang dimiliki oleh keluarga. Salah satu alasan penting
yang menimbulkan perbedaan itu adalah alasan ekonomi.
1) Keluarga kelas sosial bawah umumnya memiliki banyak anak,
penghasilan kecil, hidup di dalam rumah yang penuh sesak.
Dalam kondisi demikian anak dituntut untuk patuh, tidak
boleh ribut, tidak boleh terlalu berinisiatif agar tidak
menimbulkan banyak resiko bagi keluarga. Sebaliknya
keluarga kecil, keadaan ekonominya lebih baik; keluarga
demikian memberi kesempatan kepada anak untuk memiliki
inisiatif, apresiasi dan kreativitas yang cukup tinggi.
2) Orang tua dari kelas bawah memiliki kedudukan pekerjaan
yang rendah. Sebagai bawahan mereka terbiasa bersikap patuh
dan tunduk pada atasannya. Sikap ini secara tidak sadar
terpancar dalam proses mendidik anak-anaknya di rumah.
E. Hubungan Timbal Balik Sekolah – Keluarga Bagi Individu
1. Pergaulan dalam Keluarga
Pada umumnya, keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak di
mana masing-masing anggota keluarga tersebut saling mempengaruhi,
saling membutuhkan, semua mengembangkan hubungan
intensif antaranggota keluarga. Anak membutuhkan pakaian,
makanan dan bimbingan dari orang tua dan orang tua membutuhkan
rasa kebahagiaan dengan kelahiran anak. Ketika anak
tumbuh dewasa maka dibutuhkan tenaga dan pikirannya untuk
membantu orang tua, lebih-lebih bila orang tua makin tidak
berdaya karena usia yang sudah lanjut.
Orang tua mempunyai peranan pertama dan utama bagi
anak-anaknya selama anak belum dewasa dan mampu berdiri
sendiri. Untuk membawa anak kepada kedewasaan, maka orang
tua harus memberi teladan yang baik karena anak suka mengimitasi
kepada orang yang lebih tua atau orang tuanya.
Dengan lingkungan pergaulan antara orang tua terhadap
anak dan anak itu sendiri dengan anggota keluarga yang lain
maka sang anak telah dihadapkan pada suatu kehidupan interaktif
yang telah membekalinya kemampuan-kemampuan dasar
untuk bertahan hidup baik dari segi fisik maupun nonfisiknya.
2. Pergaulan Di Dalam Sekolah
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, terdiri dari
pendidik dan anak didik. Antara mereka telah terjadi hubungan
yang berlapis-lapis, baik antara murid dengan guru, murid
dengan sesama murid serta murid dengan warga sekolah lainnya.
Guru-guru sebagai pendidik, dengan wibawanya dalam
pergaulan membawa murid sebagai anak didik ke arah kedewasaan.
Memanfaatkan pergaulan sehari-hari dalam pendidikan
adalah cara yang paling baik dan efektif dalam pembentukan
pribadi dan dengan cara ini pula maka hilanglah jurang pemisah
antara guru dan anak didik.
Hubungan murid dengan murid juga menunjukkan suasana
yang edukatif. Sesama murid saling berkawan, berolahraga
bersama dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku, saling
mengajak dan diajak, saling bercerita, saling mendisiplinkan diri
agar tidak menyinggung perasaan teman sepergaulannya.
Dalam lingkungan sekolah seorang individu dihadapkan
pula pada pola orientasi kehidupan yang lebih luas. Di mana
perangkat-perangkat aktivitas tersebut tidak dia temui di dalam
keluarga. Secara prinsipiil melihat sekolah sebagai ruang
terorganisasi yang di dalamnya terdapat peran-peran yang cukup
kompleks maka seluruh siswa telah balajar mengenal orientasi
kehidupan menuju pembelajaran dan persiapan untuk menyandang
status orang-orang dewasa.
Sekolah merupakan miniatur masyarakat yang memiliki
peran-peran yang cukup rumit dan menerapkan pola-pola
peraturan yang lebih ketat. Tempat di mana proses pengajaran
keterampilan dan macam-macam standar pengetahuan akan diserap
dan dipahami oleh siswa untuk memainkan peran kehidupannya
pada jenjang kedewasaannya.
3. Pengaruh Keluarga-Sekolah Terhadap Individu
Proses sosialisasi individu mengidentifikasi dirinya sesuai
dengan perkembangan fisik dan emosinya untuk diarahkan pada
hubungan keselarasan dengan lingkungan eksternalnya. Pendekatan-
pendekatan yang dikembangkan oleh ahli-ahli ilmu sosial di
atas sudah cukup menjelaskan bahwa hasil terbentuknya kepribadian
merupakan hasil perwujudan dari dunia luar. eiring dengan perkembangan fisik biologisnya individu
mendapat perlakuan yang sangat intensif untuk mengembangkan
fungsi-fungsi fisik serta kemampuan-kemampuan mental etis
yang paling mendasar dari keluarga. Melalui segala aktivitas yang
tercakup dalam lingkungan keluarga selain individu menyesuaikan
perkembangan fisik sesuai dengan perjalanan usianya, maka
tiap fase-fase usia yang dilalui individu telah mendapat bekalbekal
mendasar untuk mengembangkannya setelah ia benar-benar
merasa memiliki kepribadian secara dewasa.
Selain dari keluarga, dalam perkembangan umur dan mentalnya
individu mendapat pengaruh dari sekolah dan dari masyarakat.
Wujud dari pengaruh timbal balik antara sekolah dengan
keluarga dalam suatu masyarakat terhadap individu dapat
digambarkan dalam ilustrasi berikut.
Keterangan:
1. Anak sebagai individu
2. Anak sebagai murid sekolah
3. Anak sebagai anggota keluarga
Gambar 4
Skema Hubungan Sekolah-Keluarga dalam Sosialisasi Individu
Dalam perkembangan yang lebih lanjut ketika sang individu
sudah cukup memiliki kemampuan untuk melangsungkan aktivitas-
aktivitas mendasar sebagai manusia. Ia lalu memasuki suatu
wilayah kehidupan luar dari keluarganya. Lingkungan itu tidak
lain adalah sekolah. Di dalam sekolah perkembangan kemampuan
tidak terbatas pada akomodasi kemampuan-kemampuan mendasar
semata. Namun di situ juga telah terbina suatu ruang
sosialisasi yang lebih luas dengan memiliki perangkat-perangkat
yang cukup lengkap. Peraturan, keterampilan, ilmu pengetahuan,
kebudayaan masyarakat, seni dan estetika, penempaan spiritual,
serta wadah kreasi-kreasi yang lebih komplek adalah aspek-aspek
khusus yang dimiliki oleh sekolah dalam menjalankan proses
sosialisasi kepada individu.
Kedua lembaga sosial tersebut selalu beriringan mengisi
setiap waktu kehidupan individu dalam aktivitas kesehariannya
dengan spesifikasi yang berbeda-beda. Keluarga bertugas menjalankan
sosialisasi nilai-nilai dasar kemanusiaan dalam pola
hubungan yang afektif. Sementara sekolah lebih menekankan
pada proses pembelajaran, pengajaran serta penempaan kepada
individu yang berisi tentang ilmu pengetahuan, keterampilan,
serta penguasaan-penguasaan peran-peran sosial yang lebih luas
di luar keluarga. Kedua peran pembentukan tersebut lalu membentuk
peran individu dalam masyarakat tempat atau wilayah
dimana individu itu berada, baik dalam skala mikro maupun
makro.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar